Showing posts with label tauladan. Show all posts
Showing posts with label tauladan. Show all posts

Friday, 4 November 2011

Kunci Syurga ............

Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya. Selain belajar, dia juga seorang jurudakwah Islam. Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s.w.t. memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja. Mula mula dia keberatan, namun kerana desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka.

Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, 'Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini.' Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, 'Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.' Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi, 'Bagaimana anda tahu bahawa saya seorang Muslim?'Paderi itu menjawab, 'Dari tanda yang terdapat di wajahmu.'

Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan kehadiran pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Pemuda Muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.

Paderi berkata, 'Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat. ' Si pemuda tersenyum dan berkata, 'Silakan!'

Sang paderi pun mulai bertanya, 'Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada lapannya, lapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya.'

'Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam syurga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!'

'Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?'

'Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?' Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca 'Bismillah...' dia berkata,

- Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

- Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. berfirman, 'Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).'
(Al-Isra': 12).

- Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

- Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.

- Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.

- Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah s.w.t. menciptakan makhluk.

- Tujuh yang tiada lapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. berfirman, 'Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.'
(Al-Mulk: 3).

- Lapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah s.w.t. berfirman, 'Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.'
(Al-Haqah: 17).

- Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*

- Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t. berfirman, 'Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.'
(Al-An'am: 160).

- Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf

- Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, 'Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.'
(Al-Baqarah: 60).

- Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

- Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s.w.t. berfirman, 'Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.'
(At-Takwir: 18).

- Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

- Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.' Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, 'Tak ada cercaan
terhadap kamu semua.' Dan ayah mereka Ya'qub berkata, 'Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (Yusuf:98)

- Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s.w.t. berfirman, 'Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai.'
(Luqman: 19).

- Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

- Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.. Allah s.w.t. berfirman, 'Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim..'
(Al-Anbiya':69).

- Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

- Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya Wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t. 'Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.' (Yusuf: 28).

- Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata, 'Apakah kunci syurga itu?'

Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, 'Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!'

Paderi tersebut berkata, 'Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah.'

Mereka menjawab, 'Kami akan jamin keselamatan anda. '

Paderi pun berkata, 'Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah , Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. '

Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.


Wallahua'lam

Read more: http://republicofmonggol.blogspot.com/2011/07/bila-paderi-terpaksa-buka-rahsia.html#ixzz1ckFs2zU0

Thursday, 29 September 2011

Hati Emas .............


Ramai orang yang punya akal tetapi malangnya ‘tidak berakal’. Maksudnya, mereka tidak menggunakan akal untuk berfikir. Padahal fikir itu ialah pelita bagi hati. Justeru di dalam Al Quran Allah sering mengingatkan manusia agar selalu berfikir, menggunakan akal untuk tadabbur akan ayat-ayatNya dan mengambil ibrah daripada segala kisah yang daripada Al Quran.

Malangnya, sedikit sekali ‘orang yang berakal’ walaupun ramai yang mempunyai akal. Hingga dengan itu ramai manusia yang tidak terasa kebesaran Allah, terlindung oleh keegoaan dirinya. Tidak mahu bersyukur kepada Allah kerana terhijab oleh kudrat dirinya. 

Itu sekadar renungan awal. Seperti mana ada orang yang punya akal tetapi tidak berakal, maka begitulah ramai ‘orang agama’ tetapi tidak beragama. Maksudnya, dia punya latar belakang pendidikan agama – mahir dengan segala wahyu dan sabda, tetapi segala-galanya tidak memberi impak kepada perilaku dan akhlaknya.

Kita sering bertemu dengan orang yang sedemikian. Kita kagum dengan latar belakang kelulusannya, cakap-cakapnya, malah kekadang ceramah-ceramah serta kuliahnya tetapi apabila kita mula mendekatinya… hati kita tertanya-tanya, apakah ini teladan beragama yang sebenarnya?

Kekadang kita terkesima dengan individu-individu yang sederhana dan latar belakang pendidikan agamanya sangat minimum (bukan tidak ada langsung), tetapi lebih warak, istiqamah dan jujur dalam pergaulan. Dia tidak ‘berminyak air’. Apa yang dipaparkannya di hadapan dan di belakang orang sama.

Saya kagum dengan beberapa orang individu yang saya kenali dalam kehidupan ini yang begitu teliti dengan makanan yang hendak diambilnya, wang yang pernah dia berhutang, komen yang hendak dilontarkannya kepada seseorang, sangat menjaga lidah dan tawaduk dalam pergaulan.

Ilmu agamanya tidak tinggi tetapi apa yang ada itu benar-benar diamalkan dan membekas (memberi impak) kepada peribadinya. Ilmu yang banyak tentulah penting. Tetapi bukan semua orang berkesempatan dan punya peluang untuk belajar di peringkat sarjana, master mahupun doktor apatah lagi profesor.

Ramai yang hanya di tahap ‘lepas fardu Ain’… Namun Allah Maha Penyayang, kekadang ada manusia yang diberi ‘hati yang bercahaya’ berbanding ‘otak yang bergeliga’, hingga dengan itu sedikit ilmu yang ada mampu dimanfaatkan seoptimumnya.

Sepanjang kembara dalam usia mencecah 50 tahun, saya temui figur-figur yang bercakap bukan dari kepalanya, tetapi dari hati. Orang yang begini bercakap tulus dan telus. Tanpa bunga-bunga kata, tanpa kilasan bahasa. Cakapnya sungguh bersahaja.

Kekadang dia tidak punya kelulusan atau jawatan yang tinggi. Namun body language – bahasa badannya (yang lebih jujur dan asli) – memancarkan cahaya keyakinan, keikhlasan dan kematangan. Jika orang lain hanya menyampaikan ilmu, tetapi dia menyampaikan hikmah. Pada saya mereka inilah ‘orang-orang kecil’ yang begitu besar dalam arena pendidikan.

Memang ada ilmu yang tidak boleh diajar, tetapi hanya boleh dipelajari. Guru yang sebegini selalunya bukan mengajar dengan huruf dan angka tetapi dengan gerak hati dan rasa. Mereka hanya mengamalkan apa yang mereka tahu. Dan ‘murid-murid’ tidak rasminya belajar daripada teladan yang dapat dilihat. Bukan dengan mendengar, menulis atau membaca. Dewan kuliahnya luas, seluas bidang kehidupan. Ketika para profesor atau doktor mendefinasikan, mencirikan dan mengupas ilmu rumah tangga secara ilmiah, mereka secara ‘simple’ menyampaikan ilmu itu secara amaliah.

Rajin-rajinkanlah menajam pandangan mata hati untuk mencari orang yang begini. Kehidupan mereka adakalanya sungguh sederhana tetapi sangat bahagia. Kejernihan wajah mengukir senyuman menjadikan kita tertanya-tanya apakah rahsia ketenangan mereka. Orang sibuk membeli katil dan tilam empuk, mereka puas dengan tidur yang lena. Orang lain sibuk dengan makanan lazat dan berzat, resipi itu dan ini, mereka makan seadanya tetapi sungguh berselera. Mereka punya ‘harta’ yang tidak akan dapat dirompak. Mereka juga punya kekayaan yang tidak mengundang caci-maki dan hasad dengki manusia.

Mereka ini bukan selebriti yang tersohor atau produk program realiti agama yang semakin banyak ketika ini. Mereka ini terselit di tengah-tengah masyarakat tanpa ‘glamour’ dan gelaran. Mereka juga tidak diuar-uarkan dalam kitaran strategi promosi dunia pasaran kontemporari yang bernuansa Islam .Tegasnya, mereka ini tidak ada nilai komersial – tidak , cukup pakej, kata orang sekarang. Mereka ini hanya produk ‘universiti kehidupan’ – yang mendapat ijazah melalui mehnah dan mujahadah. Ya Allah, temukan kami dengan orang ini, manalah tahu mereka itulah pewaris hati Uwais Al Qarni yang doanya mustajab dan kata-katanya mujarab untuk merawat mazmumah yang masih bersarang dalam jiwa ini.

Sahabat-sahabat ku (pengunjung gentarasa), kekadang terlalu banyak untuk ditulis sehingga tidak mampu dituang oleh kata-kata dan bahasa. Makna kadang-kadang tercari-cari kata-kata kerana sering diungkapkan sesuatu yang indah hanya dapat dirasa tetapi sukar untuk diungkapkan. Ya, tiada kata secantik bahasa… untuk mengungkapkan segala perasaan. Namun, keindahan itu bukan hanya untuk dirasa, tetapi untuk dijelmakan dalam bentuk perbuatan dan tindakan. Ya Allah, jangan jadikan kami orang yang terhijab oleh rasa-rasa yang tidak keruan, disangka kebenaran rupa-rupanya bisikan syaitan!

Untuk mu sahabat-sahabatku, aku tinggalkan sedikit catatan… di nota hati yang ‘bergenta’ beberapa minggu yang lalu. Ini adalah kesah protes hatiku terhadap orang agama yang tidak beragama. Yang tanpa sedar mereka (atau kita juga?) telah menjadi umpama ulu kapak (yang terbuat dari kayu) untuk menebang kayu. Pinta dijauhkan agar janganlah ‘orang agama’ menjadi fitnah terhadap agama.

Namun, aku tidak mahu mencoret kisah marah. Justeru, menyedari bahawa diri ini juga acap kali terperangkap dalam tipuan yang sama. Lalu kupintal-pintal rasa marah menjadi kisah kagum, harmoni bernada muhasabah. Ya, akhirnya ku coretkan catatan ini. Cuma kisah sekeping hati.. 

HATI SEORANG PEMANDU TEKSI…

Aku melihat dirinya sangat sederhana. Seorang pemandu teksi yang acap kali singgah untuk solat Subuh di masjid berhampiran dengan rumah ku. Kekadang aku berpapasan dengannya lewat solat Asar – jika kebetulan pulang awal dari kerja. Wajahnya jernih walaupun jelas telah berusia. Umurnya, sekitar 65 tahun, mungkin.

“Kenapa masih bekerja Pak cik?”

“Kenapa? Pak Cik dah nampak tua?” tanyanya kembali.

Aku tersenyum. Senang dengan kemesraannya.

“Anak-anak masih kecil?” tanyaku lagi, mencungkil sebab sebenar dia masih bekerja walaupun selayaknya pada usia begitu dia berehat.

“Ah, Pak Cik dah bercucu. Alhamdulillah anak-anak semuanya dah bekerja. Ada juga yang berniaga,” kilas Pak cik itu bersahaja.

“Kenapa Pak cik masih bekerja?” tanyaku lagi sambil memegang bahunya mesra.

“Bukankah bekerja itu satu ibadah? Ibadah mana ada pencen,”jawabnya pendek.

Aku terdiam. Inilah inti pati kuliah ‘Penghayatan Kerja Sebagai Satu Ibadah’ yang selalu aku sampaikan dalam program-program latihan dan ceramah. Terasa malu, aku yang selalu menyampaikan ilmu tetapi Pak Cik ini yang menghayati dan mengamalkannya. Ya, kalau kita bekerja kerana ganjaran dan imbuhan, kita akan berhenti sebaik sahaja kita mendapatnya. Tetapi kalau kita bekerja kerana Allah, atas dasar ibadah, kita akan terus bekerja walaupun telah mendapat imbuhan. Selagi ada tenaga. Walaupun aku kira Pak cik ini telah mendapat bantuan daripada anak-anaknya tetapi dia tetap bekerja kerana dia bekerja bukan kerana wang. Dia bekerja kerana Allah.

“Pak Cik gembira dengan kerja ni?”

“Gembira. Pak Cik tak ada kepandaian lain. Inilah sahaja kepandaian Pak Cik. Bawa teksi. Dengan cara inilah sahaja Pak cik memberi khidmat kepada manusia lain,” akuinya terus-terang. Hebat, inilah yang dimaksudkan oleh hadis Rasulullah s.a.w. yang selalu disampaikan oleh para ustaz, sebaik-baik manusia ialah manusia yang memberi manfaat kepada manusia lain.

“Awal Pak Cik dah keluar? Lepas Subuh terus bekerja?”

“Pagi-pagi ni murah rezeki. Pak Cik suka mula awal tetapi habis awal. Malam boleh tumpukan kerja lain.”

“Malam pun Pak Cik kerja juga?”

“Bukan kerja… Pak cik ikut kuliah-kuliah agama, belajar tajwid semula dan kadangkala ikut dalam majlis zikir. Itulah kerja Pak Cik yang dah berumur ni.”

Subhanallah, sekali lagi Pak Cik ini mengamalkan apa yang disebut dalam Al Quran ‘fa iza faraghta fan sab’ – maka apabila engkau telah selesai (dari satu urusan) tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain), maksudnya selesai satu ibadah, kita sambung terus dengan ibadah yang lain pula. Tidak ada istilah rehat yang hakiki di dunia. Kita beribadah ‘around the clock’ – sepanjang waktu. Rehat hanya di syurga.

“Pak Cik dulu mengaji agama di mana?” aku terus mencungkil.

“Pak cik tak pernah mengaji agama secara rasmi. Dulu sekolah kebangsaan sahaja. Apa yang Pak cik dapat hasil mendengar sahaja. Mengaji dengar-dengar, kata orang. Kadangkala di masjid, di surau, dalam radio atau melalui perbualan-perbualan biasa.”

“Apa yang Pak Cik cari semasa mengaji secara dengar-dengar tu?”

“Pak Cik pegang satu sahaja, bila dapat kita terus amal. Baru ilmu tu berkat.”

Aku senyum. Memang luar biasa Pak Cik yang kelihatan biasa-biasa ini. Aku mendapat berita Pak Cik ini pernah memulangkan wang berjumlah RM 5 ribu yang tertinggal oleh penumpang dalam teksinya. Pernah juga dia bergelut dengan lelaki yang cuba merompak teksinya. Keberanian, kejujuran dan istiqamahnya menjaga solat jemaah sangat aku kagumi.

“Sekarang ni mudah dapat pelanggan?”

“Ada kala mudah, ada kalanya payah. Tak menentu. Sekarang ni susah nak jangka.”

“Kalau pelanggan tidak da bagaimana?”

“Tu, CD kuliah-kuliah agama. Pak Cik habiskan masa dengan dengar kuliah agama. Kalau letih mendengar Pak Cik cubalah zikir sedikit-sedikit. Rezeki tetap ada. Tidak dalam bentuk duit, kita dapat dalam bentuk ilmu.”

“Pak Cik sihat? Tak da sakit-sakit?”

“Sakit tu mesti ada. Badan dah tua. Lenguh-lenguh, sakit urat. Tetapi yang berat-berat tu tak adalah. Alhamdulillah.”

“Pak Cik makan makanan tambahan? Food supplement?” jolok aku.

“Tak da. Pak Cik cuma jaga makan dan joging. Tubuh kita ni bukan kita punya… kena jaga baik-baik.”

“Eh, Pak Cik, sepatutnya yang kita punyalah kita kena jaga baik-baik.”

“Tak tahulah Pak Cik. Tapi Pak Cik anggap tubuh kita ini amanah Allah. Bila amanah, kita perlulah jaga baik-baik.”

Terkedu aku dengan jawapan itu. Dalam hati aku mengagumi orang seperti Pak Cik ini. Orang tua yang ‘simple’, tenang dan punya prinsip yang tepat dan jelas dalam hidup. Dia bukan sahaja memandu teksi tetapi dia benar-benar memandu kehidupannya. Individu yang dianggap marhaen ini rupanya punya ‘hati emas’. Isi cakap dan sikapnya semuanya Al Quran dan Al Hadis, walaupun dia tidak petah menuturkan ayat Al Quran dan lafaz hadis. Sesungguhnya, dia jauh lebih baik daripada para ustaz mahupun orang yang digelar alim, yang mulutnya berbuih dengan ayat Quran dan Al hadis tetapi praktik, hati budi serta gaya hidupnya berbeza dengan ayat Quran dan Al hadis yang menjadi perhiasan lidahnya!.

Kisah Pak Cik pemandu teksi ini mengingatkan aku kepada budak gembala kambing yang diuji oleh Amirul Mukminin Sayidina Umar Al Khattab di tengah padang pasir. Apabila Sayidina Umar mengatakan bahawa tuan punya kambing tidak akan tahu jika budak gembala itu menjual seekor kambing secara senyap-senyap, budak itu lantas berkata, “kalau begitu di mana Allah?”

Begitu juga dengan kisah seorang gadis yang tidak mahu mencampurkan air ke dalam susu yang dijualnya walaupun disuruh oleh ibunya berbuat demikian.

“Kita tidak boleh mencampurkan susu ini dengan air ibu. Amirul Mukminin Sayidina Umar telah melarang perbuatan ini.”

“Ah, kita di dalam rumah kita. Bukankah ini waktu malam? Umar tidak akan tahu,” balas ibunya.

“Tapi Tuhan Umar tahu! Allah tahu ibu.”

Kata-kata budak gembala kambing, “kalau begitu di mana Allah?” dan gadis penjual susu, “tetapi Tuhan Umar tahu,” sesungguhnya bukan Al Quran dan bukan hadis tetapi rohnya, isinya dan mesejnya sejajar dengan Al Quran dan hadis. Itulah natijah pemikiran dan jiwa yang telah dibentuk oleh iman, lafaz kebenaran boleh jadi diluahkan dalam bahasa pertuturan yang biasa-biasa sahaja tetapi jika dicari dalil dan hujahnya dalam Hadis dan Al Quran, pasti ditemui.

Kembali kepada cerita Pak Cik pemandu teksi yang menjadi teman bual aku di serambi masjid selepas sama-sama mengerjakan solat Asar tadi.

“Pak Cik, apa yang paling susah sewaktu bekerja sebagai pemandu teksi ni?”

“Nak balas kejahatan dengan satu kebaikan. Itu yang paling susah. Pelanggan maki kita, kita balas dengan senyum. Orang herdik kita, kita minta maaf. Orang cuba tipu kita, kita mengelak dengan baik.”

“Mengapa begitu Pak Cik?”

Dia terdiam. Setelah merenung agak panjang beliau berkata, “ itulah ujian yang menentukan kita ikhlas atau tidak… Kalau kita buat kerana Allah, Insya-Allah, kita boleh balas kejahatan dengan kebaikan. Atau sekurang-kurangnya tidak membalas. Kita diam sahaja..”

Sekali lagi Pak Cik pemandu teksi ini telah menuturkan hikmah yang pernah disampaikan oleh Sayidina Ali. “Tanda ikhlas itu…, kata Sayidina Ali, “ialah apabila pujian tidak menyebabkan kau menambah amal. Dan kejian manusia tidak menyebabkan kau mengurangkannya. Di hadapan dan di belakang manusia, ibadah mu tetap sama.”

Dan sesungguhnya itulah juga inti pati ayat Al Quran, surah Fussilat: 34 yang bermaksud, “ tolaklah kejahatan yang ditujukan kepada mu dengan cara yang lebih baik; apabila engkau berbuat demikian maka orang yang menaruh rasa permusuhan terhadap mu dengan serta-merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib.”

Setelah bersalaman, Pak Cik pemandu teksi itu menuju teksinya.

“Ada janji dengan pelanggan. Assalamualaikum,” katanya, terus memandu teksinya dengan ceria. Aku? Aku terus duduk di tangga masjid sambil menghitung diri. Bolehkah aku meneladaninya? Bolehkah aku membalas kejahatan dengan satu kebaikan? Atau aku akan terus sibuk mencari dalil dan fakta untuk bahan tulisan atau ceramah sedangkan ada insan lain yang jauh lebih ikhlas telah mengamalkannya dalam kehidupan? Ya, alangkah dungunya kita kalau hanya sibuk menghafal nama makanan sedangkan orang lain telah memakannya? Begitulah perumpamaannya…

"SHARING IS CARING"  

Sumber: GENTA RASA